gop-crypto.vip

Apresiasi Gasifikasi Batu Bara, IMEF Ingatkan Aspek Keekonomian

AKURAT.CO Indonesian Mining & Energy Forum (IMEF) menilai proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol merupakan salah satu langkah strategis pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku industri kimia.

Ketua IMEF, Singgih Widagdo mengatakan, pengembangan metanol dari batu bara memiliki prospek yang menjanjikan karena tidak hanya dapat menggantikan produk impor, tetapi juga menjadi bahan baku bagi berbagai industri petrokimia di dalam negeri.

"Gasifikasi metanol dari pilihan terbaik bagi Pemerintah dalam mengatasi devisa yang terkuras akibat inmpor LPG. Namun banyak turunan dari metanol yangdapat dikembangkan untuk industri petrokimia lainnya. Jadi dari sisi menghadapi trend transisi energi menjadi sangat tepat," kata Singgih kepada Akurat.co, Jumat (31/7/2026).

Meski demikian, Singgih mengingatkan bahwa keberhasilan proyek gasifikasi sangat bergantung pada aspek keekonomian, terutama terkait penetapan harga batu bara sebagai bahan baku.

Menurutnya, meskipun proyek tersebut akan memanfaatkan batu bara berkalori rendah (low rank coal/LRC), pemerintah tetap perlu memastikan harga pasokan batu bara masih berada pada tingkat yang ekonomis dan tidak berada di bawah biaya produksi.

"Meskipun yang akan dimanfaatkan adalah batu bara kalori rendah, apakah harga batu bara untuk metanol ada di bawah biaya produksi apa tidak," ujarnya.

Singgih menilai, apabila skema keekonomian tersebut dapat tercapai, maka kewajiban hilirisasi melalui pembangunan fasilitas metanol yang selama ini dibebankan kepada pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) hasil perpanjangan PKP2B berpotensi direalisasikan.

Sebaliknya, apabila proyek lebih diarahkan untuk kepentingan ketahanan dan kemandirian energi nasional, menurutnya pemerintah perlu mengambil peran yang lebih besar dalam pengembangannya.

“Namun saya yakin, perhitungan berbagai parameter keekonomian ttp menjadi perhatian Danantara untuk merealisaaikan proyek gasifikasi metanol,” ucap Singgih.

Lebih lanjut, Singgih juga menilai kontribusi proyek gasifikasi terhadap penyerapan batu bara kalori rendah secara nasional masih relatif terbatas. Dengan kapasitas produksi metanol sekitar 2 juta ton per tahun, kebutuhan batu bara diperkirakan hanya sekitar 6 juta ton per tahun.

Sementara itu, cadangan batu bara kalori rendah Indonesia mencapai sekitar 24,5 miliar ton atau sekitar 77% dari total cadangan batu bara nasional yang mencapai 31,9 miliar ton.

Karena itu, menurutnya tujuan utama proyek gasifikasi bukan semata-mata untuk meningkatkan penyerapan batu bara kalori rendah, melainkan sebagai langkah strategis pemerintah dalam membangun fondasi ketahanan energi di tengah transisi menuju energi yang lebih bersih.

"Tapi saya lebih meletakkan untuk mempersiapkan Pemerintah dalam menghadapi transisi ke depan dengan melakukan berbagai langkah kemandirian energi dalam bentuk apapun, termasuk gasifikasi metanol,” tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, PT Bumi Etam Chemical (BEC) bersama PT Istana Karang Laut (IKL) dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC) menandatangani kontrak Front-End Engineering Design (FEED) dan Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) Framework Agreement untuk pengembangan Proyek Strategis Nasional (PSN) Gasifikasi Batu Bara (Coal to Methanol) di Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Kesepakatan ini menandai dimulainya tahap rekayasa dasar (FEED) sekaligus penyusunan kerangka pelaksanaan EPCC sebagai fondasi menuju fase konstruksi fasilitas produksi metanol dari batu bara.

Proyek ini ditargetkan dapat memproduksi metanol sebesar 2 juta ton per tahun dan dalam jangka panjang kapasitas produksi direncanakan meningkat secara bertahap hingga mencapai 3,6 juta ton per tahun.