Apa Itu Desil dan Arti Desil 1 hingga 10?
Liputan6.com, Jakarta - Istilah "desil" jadi perbincangan hangat di masyarakat. Pemicunya adalah sejumlah buruh dengan gaji setara upah minimum mengaku kaget saat mendapati status ekonomi mereka justru tercatat masuk kelompok desil atas dalam data pemerintah.
Polemik ini juga disorot oleh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI). Organisasi buruh itu menilai metode penghitungan desil perlu dirombak karena tidak mencerminkan kondisi riil penghasilan pekerja.
Lantas, sebenarnya apa itu desil dan bagaimana pembagian desil 1 sampai 10 bekerja? Berikut penjelasannya, dikutip Liputan6.com dari berbagai sumber, Sabtu (29/8/2026)
Kata desil diambil dari bahasa Latin. decem, yang berarti sepuluh. Dalam ilmu statistik, desil adalah metode pembagian sekelompok data, dalam konteks ini populasi penduduk, menjadi 10 bagian dengan jumlah yang sama besar. Setiap bagian mewakili 10% dari total populasi.
Cara kerjanya, seluruh rumah tangga di suatu wilayah diurutkan mulai dari kondisi ekonomi paling rendah hingga paling tinggi, lalu dibagi rata menjadi 10 kelompok. Desil 1 mewakili 10% rumah tangga dengan kondisi ekonomi paling bawah, sedangkan Desil 10 mewakili 10% rumah tangga dengan kondisi ekonomi paling mapan.
Di Indonesia, sistem pengelompokan ini menjadi bagian dari Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Data ini memuat informasi sosial-ekonomi seluruh penduduk dan dipakai pemerintah sebagai acuan untuk menyalurkan bantuan sosial secara lebih terukur.
Variabelnya Bukan Cuma Gaji, Ini Arti Desil 1-10
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6370179/original/076427000_1779245274-unnamed__1_.jpg)
Perbesar
Yang kerap membuat publik bingung, penentuan desil ternyata tidak hanya berdasarkan besaran pendapatan atau upah seseorang. Ada sejumlah variabel lain yang ikut dihitung, mulai dari kondisi fisik rumah (jenis lantai, dinding, atap), akses sanitasi dan listrik, kepemilikan aset seperti kendaraan bermotor dan barang elektronik, hingga profil demografi keluarga seperti jumlah tanggungan dan pendidikan kepala keluarga.
Semua variabel itu diolah dengan metode Proxy Means Testing (PMT) untuk menghasilkan satu skor kesejahteraan yang menentukan di posisi desil mana sebuah keluarga berada.
Model perhitungan multidimensi inilah yang memicu kritik, termasuk dari KSPI, karena seorang buruh dengan upah minimum yang kebetulan tinggal di rumah keluarga besar atau memiliki kendaraan hasil warisan bisa saja "terangkat" ke kelompok desil yang lebih tinggi meski penghasilan riilnya jauh dari kata mapan.
Arti Desil 1 sampai 10
Secara umum, gambarannya kurang lebih seperti ini:
1. Desil 1: kelompok 10% rumah tangga termiskin, kerap disebut kategori miskin ekstrem dan jadi prioritas utama seluruh program bantuan sosial.
2. Desil 2: kelompok miskin, masih jadi prioritas program bantuan tunai dan pangan.
3. Desil 3: kelompok hampir miskin, kondisinya rentan turun kelas bila ada guncangan ekonomi.
4. Desil 4: kelompok rentan miskin, umumnya jadi batas akhir (cut-off) penerima bantuan reguler.
5. Desil 5: kelompok pas-pasan, bantuan yang diterima lebih terbatas dan selektif.
Data Desil Berubah-ubah, Begini Cara Ceknya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4147878/original/074965600_1662436164-Cek_Bansos_2.jpg)
Perbesar
6. Desil 6–8: kelompok menengah, umumnya dianggap sudah mandiri secara ekonomi.
7. Desil 9–10: kelompok mapan hingga kaya, secara aturan tidak berhak menerima bantuan sosial dalam bentuk apa pun.
Semakin kecil angka desil seseorang, semakin besar peluangnya mengakses program seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), atau Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK). Sebaliknya, mereka yang berada di Desil 9-10 dianggap negara sudah mampu membiayai kebutuhan hidupnya sendiri.
Perlu diketahui, data desil bisa berubah sewaktu-waktu. Pemerintah pusat rutin memutakhirkan DTSEN, dengan data yang digabungkan dari hasil Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek) dan data kependudukan Dukcapil. Pemerintah desa maupun kelurahan juga bisa memperbarui data lewat aplikasi SIKS-NG.
Perubahan status ekonomi keluarga, misalnya ada anggota keluarga yang baru mendapat pekerjaan tetap atau justru kena PHK bisa membuat posisi desil bergeser di periode pembaruan berikutnya.
Masyarakat bisa mengecek posisi desilnya lewat situs resmi cekbansos.kemensos.go.id dengan memasukkan data wilayah dan nama sesuai KTP. Alternatif lain, bisa melalui aplikasi "Cek Bansos" milik Kementerian Sosial yang menampilkan status kepesertaan bansos secara lebih detail setelah verifikasi NIK dan KK.
Kaitannya dengan Polemik yang Disorot KSPI
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335407/original/039435200_1787980763-Screenshot__1009_.jpg)
Perbesar
Jika status yang muncul dirasa tidak sesuai, warga bisa menyanggah lewat fitur "Usul Sanggah" di aplikasi tersebut, atau melapor langsung ke RT/RW maupun operator SIKS-NG di kantor desa/kelurahan dengan membawa bukti pendukung, seperti foto kondisi rumah atau slip gaji.
Persoalan desil ini menjadi pangkal kritik KSPI dalam konferensi pers yang digelar Sabtu (29/8/2026). Presiden KSPI Said Iqbal menilai penggunaan variabel aset dan kondisi rumah membuat sejumlah buruh berupah minimum ikut tercatat di desil atas, padahal dari segi pendapatan mereka jelas belum masuk kategori mampu.
KSPI pun mendesak agar metode penghitungan desil diubah dengan menjadikan upah sebagai basis utama, disertai evaluasi berkala setiap lima tahun mengikuti perubahan struktur pengupahan, bukan lagi mengandalkan kepemilikan aset seperti rumah atau kendaraan sebagai penentu utama.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6