Aktivitas impor lewat PLBN Jagoi Babang Bengkayang belum optimal - ANTARA News Kalimantan Barat
Bengkayang (ANTARA) - Kantor Bea Cukai Jagoi Babang menyebutkan, aktivitas perdagangan melalui PLBN Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, hingga kini masih didominasi ekspor, sementara arus impor belum berkembang optimal karena fasilitas pemeriksaan dan pelayanan kepabeanan di sisi Malaysia belum sepenuhnya siap.
Kepala Bea Cukai Jagoi Babang Arman Tarmidzi mengatakan, aktivitas impor melalui perbatasan tersebut saat ini masih terbatas dan mengacu pada ketentuan Border Trade Agreement (BTA) bilateral Indonesia-Malaysia.
“Untuk saat ini aktivitas perdagangan melalui Jagoi Babang masih didominasi ekspor. Kegiatan impor sifatnya terbatas sesuai ketentuan Border Trade Agreement bilateral Indonesia-Malaysia,” kata Arman di Bengkayang, Kamis.
Ia menjelaskan kegiatan pembawaan barang oleh pelintas batas dilayani menggunakan Kartu Identitas Lintas Batas dengan batas nilai sebesar 600 ringgit Malaysia per orang per bulan.
Kondisi tersebut juga katanya, berkaitan dengan layanan PLBN Jagoi Babang yang saat ini melayani pelintas batas dengan dokumen Pas Lintas Batas (PLB).
Menurut Arman, salah satu faktor yang membuat aktivitas impor belum berkembang adalah belum selesainya pembangunan fasilitas ICQS (Immigration, Customs, Quarantine and Security) di Serikin, Malaysia.
Pembangunan ICQS Serikin sendiri telah dicanangkan pemerintah Malaysia pada Desember 2025 dengan target penyelesaian pada 2027 dan direncanakan mulai beroperasi pada 2028.
“Hal ini mungkin terjadi karena di sisi Malaysia belum selesai dibangunnya ICQS Complex di Serikin,” ujarnya.
Selain kesiapan fasilitas di Malaysia, perkembangan impor juga dipengaruhi ketentuan perdagangan lintas batas yang disepakati kedua negara.
Arman mengatakan, perdagangan melalui perbatasan masih mengacu pada konsep perdagangan tradisional sebagaimana diatur dalam perjanjian bilateral Indonesia-Malaysia. Ketentuan tersebut turut mengatur pembatasan terhadap sejumlah komoditas yang tidak dapat diimpor atau dibawa masuk ke Indonesia melalui perbatasan.
Dari sisi Indonesia, keterbatasan infrastruktur juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan, terutama kondisi jalan dan jembatan yang harus mampu menopang peningkatan distribusi barang apabila aktivitas perdagangan dua arah mulai berkembang.
“Di sisi Indonesia, infrastruktur berupa jalan yang lebar dan jembatan yang kuat untuk menopang kegiatan distribusi juga menjadi aspek yang perlu diperhatikan,” katanya.
Arman menegaskan kendala pengembangan arus impor tidak hanya berasal dari satu sisi, tetapi merupakan persoalan yang perlu dipersiapkan secara bersama oleh Indonesia dan Malaysia. Karena itu, kesiapan fasilitas di kedua negara menjadi penting untuk menciptakan sistem perdagangan lintas batas yang lebih tertib dan mampu mengakomodasi peningkatan arus barang secara resmi.
Jika katanya, fasilitas perbatasan telah lengkap dan ketentuan perdagangan memungkinkan, sejumlah komoditas kebutuhan masyarakat berpotensi masuk melalui Jagoi Babang, terutama barang kebutuhan pokok dan barang konsumsi.
Namun, potensi tersebut tetap bergantung pada ketentuan BTA Indonesia-Malaysia serta kebutuhan pasar dan pelaku usaha di Kabupaten Bengkayang dan wilayah sekitarnya.
“Potensi riilnya akan sangat bergantung pada kebutuhan pasar dan pelaku usaha di wilayah Bengkayang dan sekitarnya,” kata Arman.
Pewarta: Narwati
Uploader : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.