Ahli: tak semua UPF buruk, pahami kandungan gizi makanan - ANTARA News Gorontalo
Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan IPB University Prof. Purwiyatno Hariyadi mengatakan, kualitas makanan tidak dapat dinilai hanya berdasarkan tingkat pengolahannya, tetapi juga perlu melihat kandungan gizi dan tujuan pengolahan pangan.
“Tidak ada dasar ilmiah untuk menyimpulkan bahwa semakin kompleks atau semakin banyak tahapan pengolahan suatu pangan, maka kualitas pangan tersebut pasti semakin buruk. Yang perlu dinilai adalah proses apa yang dilakukan, pada kondisi seperti apa, perubahan apa yang ditimbulkannya, dan atribut mutu apa yang terdampak,” ujar Prof. Purwiyatno.
Dia mengatakan di Jakarta, Jumat, bahwa sejumlah penelitian memang menemukan hubungan antara konsumsi ultraproses (Ultraprocessed Food/UPF) dalam jumlah tinggi dengan berbagai masalah kesehatan. Salah satu tinjauan besar yang diterbitkan dalam BMJ pada 2024 menemukan adanya hubungan antara konsumsi UPF dan sejumlah kondisi kesehatan, termasuk obesitas, diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, gangguan mental, serta kematian dari berbagai penyebab.
Namun, katanya, hubungan tersebut tidak dapat langsung diartikan bahwa proses pengolahan menjadi penyebabnya. Kandungan gizi, formulasi, jumlah dan frekuensi konsumsi, serta pola makan secara keseluruhan juga perlu diperhatikan.
Pengolahan pangan sendiri memiliki berbagai tujuan. Dia menjelaskan bahwapemanasan, pasteurisasi, sterilisasi, fermentasi, pengeringan, hingga pembekuan dapat dilakukan untuk meningkatkan keamanan, memperpanjang masa simpan, meningkatkan daya cerna, maupun menghasilkan karakteristik tertentu pada pangan.
“Yang kita perlukan bukan label yang semakin sederhana, tetapi informasi yang semakin spesifik dan terukur,” ujarnya.
Kemudian, lanjutnya, International Special Dietary Foods Industries (ISDI) mengingatkan bahwa penggunaan klasifikasi UPF yang terlalu luas berpotensi menempatkan produk dengan fungsi dan profil gizi yang sangat berbeda ke dalam kategori yang sama.
Karena itu, konteks penggunaan pangan menjadi penting. Produk dengan kandungan gula, garam, atau lemak jenuh tinggi dan dikonsumsi secara berlebihan tidak semestinya diperlakukan sama dengan produk yang diformulasikan untuk memenuhi kebutuhan gizi tertentu hanya karena keduanya melewati sejumlah tahapan pengolahan.
Senada, pakar gizi masyarakat dari IPB University Prof. Ali Khomsan mengatakan, perdebatan mengenai UPF bukan berarti masyarakat perlu memilih antara menerima atau menghindari seluruh pangan yang masuk dalam kategori tersebut.
"Yang lebih penting adalah memahami bahwa tidak semua pangan dalam kategori UPF memiliki karakteristik dan kandungan gizi yang sama. Karena itu, pilihan pangan sebaiknya mempertimbangkan kandungan gizi, keamanan, proses pengolahan, tujuan penggunaan, serta jumlah dan frekuensi konsumsi. Semua aspek tersebut perlu dilihat dalam konteks pola makan secara keseluruhan," katanya.
Untuk pangan olahan terkemas, ujarnya, konsumen juga dapat memperhatikan prinsip Cek KLIK dari BPOM: Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kadaluarsa. Informasi pada label, termasuk komposisi dan informasi nilai gizi, dapat menjadi dasar untuk membuat pilihan yang lebih tepat.Dengan demikian, kata Ali, makanan yang lebih sedikit diproses tidak selalu lebih sehat, begitu pula makanan yang lebih banyak diproses tidak selalu lebih buruk. Penilaian pangan perlu didasarkan pada informasi yang lebih spesifik dan terukur agar masyarakat dapat memahami kualitas produk dan menentukan pilihan sesuai kebutuhan.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Ahli: kualitas makanan tak bisa dinilai hanya dari tingkat pengolahan
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.