gop-crypto.vip

90 Menit Telepon Akrab Putin-Trump Versi Kremlin, Deal BBM Diesel Picu Amarah Ukraina |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Percakapan telepon antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berlangsung begitu akrab hingga kedua pemimpin disebut sama-sama enggan menjadi pihak pertama yang mengakhiri pembicaraan. Namun, di balik kehangatan hubungan Washington dan Moskow tersebut, kesepakatan perdagangan BBM diesel Rusia justru memicu kemarahan Ukraina dan menambah ketegangan dalam upaya mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.

Ajudan kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov, mengungkapkan bahwa percakapan Putin dan Trump pada Jumat (9/10/2026) berlangsung sekitar 90 menit. Pembicaraan tersebut terutama membahas kemungkinan penyelesaian perang Rusia-Ukraina serta kerja sama energi kedua negara untuk mengatasi tekanan harga bahan bakar dunia.

"Percakapan kedua presiden berlangsung sangat substantif dan, menurut saya, bersahabat. Tidak satu pun ingin menjadi pihak pertama yang menutup telepon," kata Ushakov kepada wartawan di Moskow, Sabtu (10/10/2026), sebagaimana dikutip kantor berita Interfax.

Ketika ditanya siapa yang akhirnya mengakhiri sambungan telepon, Ushakov memberikan jawaban yang menggambarkan suasana percakapan kedua pemimpin. Menurutnya, Putin dan Trump menutup telepon pada waktu yang benar-benar bersamaan.

"Mereka menutup telepon secara bersamaan, benar-benar pada saat yang sama," ujar Ushakov.

Ia bahkan mengutip Trump yang disebut menyatakan kesediaannya terus berbicara dengan Putin sepanjang hari, malam, hingga keesokan harinya. Ushakov menilai pernyataan itu memperlihatkan kedekatan komunikasi antara kedua presiden di tengah upaya diplomasi yang masih berlangsung.

Keterangan mengenai suasana akrab tersebut berasal dari pihak Kremlin dan belum dikonfirmasi secara terpisah oleh Gedung Putih dalam rincian yang sama. Namun, Washington telah mengonfirmasi adanya pembicaraan kedua pemimpin, termasuk kesepakatan mengenai pasokan BBM diesel Rusia ke pasar Amerika Serikat dan internasional.

Trump mengumumkan kesepakatan itu melalui platform Truth Social pada Jumat. Ia menyatakan Rusia akan segera menyediakan lebih dari 300 ribu ton BBM diesel, diikuti tambahan 500 ribu ton pada November dan satu juta ton dalam tahap berikutnya.

Menurut Trump, Rusia juga berpotensi menyediakan tiga juta ton tambahan bergantung pada kemampuan fasilitas pengolahan minyaknya. Jika seluruh rencana tersebut terlaksana, pasokan BBM diesel yang diumumkan dapat mencapai sekitar 4,8 juta ton, meskipun realisasi pengirimannya masih harus dibuktikan.

Pemerintahan Trump menilai langkah tersebut diperlukan untuk membantu menurunkan harga BBM diesel yang meningkat tajam akibat gangguan pasokan energi internasional. Perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran serta terganggunya pelayaran di Selat Hormuz telah memperbesar tekanan terhadap pasar minyak dan bahan bakar global.

Kesepakatan itu segera diikuti perubahan kebijakan sanksi Amerika terhadap Rusia. Departemen Keuangan AS melalui Office of Foreign Assets Control (OFAC) menerbitkan General License Nomor 135 pada 9 Oktober yang memungkinkan transaksi tertentu terkait penjualan, pengiriman, pembongkaran, dan impor BBM diesel asal Rusia.

Izin tersebut berlaku hingga 7 April 2027, tetapi bukan berarti Washington mencabut seluruh sanksi ekonomi terhadap Moskow. Sejumlah pembatasan transaksi keuangan yang melibatkan Bank Sentral Rusia, Dana Kekayaan Nasional Rusia, dan Kementerian Keuangan Rusia tetap dipertahankan.

Bagi Moskow, kebijakan tersebut membuka peluang memperluas kembali penjualan produk energi ke pasar internasional setelah bertahun-tahun menghadapi tekanan ekonomi Barat. Putin menyatakan Rusia siap menyediakan minyak dan produk olahannya bagi pasar Amerika maupun negara-negara lain untuk membantu menjaga stabilitas pasokan global.

Namun, perubahan kebijakan Washington langsung menimbulkan persoalan diplomatik dengan Ukraina. Presiden Volodymyr Zelenskyy menilai kesepakatan perdagangan energi tersebut sebagai langkah sepihak yang justru dapat menambah pendapatan Rusia untuk membiayai operasi militernya.

Dalam wawancara dengan Axios pada Jumat, Zelenskyy mengaku terkejut dengan keputusan Trump. Ia menyebut pelonggaran sanksi itu sebagai tindakan yang tidak adil dan tidak jujur terhadap Ukraina, terutama karena diumumkan ketika delegasi Kyiv sedang membicarakan proposal perdamaian bersama Amerika Serikat.

"Ini seperti hadiah ulang tahun yang menyenangkan bagi Putin. Ini terlihat sangat buruk," kata Zelenskyy.

Presiden Ukraina itu bahkan mengibaratkan perkembangan tersebut sebagai pengulangan pertemuan Trump dan Putin di Alaska pada Agustus 2025. Menurutnya, Amerika kembali menawarkan keuntungan kepada Rusia tanpa terlebih dahulu memastikan adanya konsesi berarti dari Moskow untuk menghentikan perang.