7 Hari Berjibaku Padamkan Karhutla di Penajam Paser Utara, Sumber Air Mulai Jadi Masalah Besar
Minggu, 4 Oktober 2026 - 00:10 WIB
Penajam, VIVA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut RT 16, Kelurahan Petung, Kecamatan Penajam, Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, belum sepenuhnya berakhir.
Baca Juga
Memasuki hari ketujuh, tim gabungan masih berjibaku melakukan pemadaman sekaligus pendinginan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Upaya tersebut dilakukan setelah pantauan dari udara menggunakan drone menemukan sejumlah titik asap di lahan gambut. Kondisi ini dikhawatirkan memicu munculnya kembali titik api.
Baca Juga
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten PPU Nurlaila mengatakan petugas masih harus mengejar titik-titik asap yang berada di lokasi sulit dijangkau.
"Penanganan masih dilakukan karena hasil pemantauan udara menunjukkan sejumlah titik asap gambut yang berpotensi kembali menjadi titik api," ujar Nurlaila di Penajam, Minggu (4/10/26).
Baca Juga
Medan dan akses air menjadi persoalan utama dalam penanganan karhutla tersebut. Lokasi titik asap berada cukup jauh dari sumber air sehingga petugas harus menarik selang sekitar 25-30 sambungan untuk mencapai area yang terbakar.
Tak hanya itu, sekitar lima hingga enam sambungan selang harus digunakan untuk mengisi fleksibel tank. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar.
Pada hari ketujuh, tim gabungan mengoperasikan tujuh mata semprot, terdiri dari empat milik BPBD, satu dari Dinas Pertanian dan dua dari Manggala Agni.
Total luas lahan yang terbakar di kawasan tersebut mencapai 36,88 hektare.
Penanganan juga melibatkan personel Satpol PP dan Direktorat Samapta Polres PPU. Secara keseluruhan, ada 75 personel yang diterjunkan.
Rinciannya, 30 personel BPBD, 15 petugas Dinas Pertanian, lima personel Manggala Agni, 12 anggota Satpol PP dan 13 personel Polres PPU.
"Pemadaman dan pendinginan seluruhnya menggunakan mesin portable dan slip on dengan memanfaatkan sumber air yang masih tersedia di lokasi," ujarnya.
Namun, persediaan air di sekitar lokasi juga mulai menjadi masalah. Saluran sekunder yang sebelumnya dapat dimanfaatkan petugas kini telah mengering.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Akibatnya, tim pemadam harus mengandalkan saluran primer untuk memenuhi kebutuhan air selama proses pemadaman dan pendinginan.
"Selain itu, PT KMS turut mendukung penanganan dengan menyiagakan mesin portable berkapasitas besar di kawasan perbatasan lokasi kebakaran," keta Nurlaila lagi.
Halaman Selanjutnya
Sementara itu, BPBD PPU mencatat karhutla di wilayah tersebut telah terjadi sebanyak 221 kali hingga (2/10/26).