6 Hal yang Dilakukan Orang Cerdas Sebelum Buat Keputusan
Daftar Isi
Jakarta -
Setiap orang pasti pernah dihadapkan pada keputusan besar, baik dalam pekerjaan, keuangan, hubungan, maupun kehidupan sehari-hari. Ketika harus memilih, seseorang terkadang bisa terburu-buru karena terbawa emosi atau hanya mempertimbangkan keuntungan dalam jangka pendek.
Namun, cara seseorang mengambil keputusan dapat memengaruhi hasil yang diperoleh. Dikutip dari laman YourTango, life coach Audrey Groeschel, menjabarkan beberapa hal yang dilakukan orang cerdas sebelum menentukan pilihan, mulai dari mempertimbangkan konsekuensi hingga memahami perasaan sendiri.
Berikut beberapa hal yang dilakukan orang cerdas sebelum mengambil keputusan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Menyadari Setiap Aspek
Orang yang cerdas cenderung menyadari ketika dirinya dihadapkan pada sebuah pilihan. Kesadaran ini penting karena keputusan besar sering kali berawal dari pilihan-pilihan kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, ketika ingin membeli kopi di kedai atau membuatnya sendiri di rumah. Hal serupa juga berlaku dalam pekerjaan. Apakah tetap menjalankan tugas dengan sebaik mungkin meski tidak menyukai pekerjaan tersebut, atau sekadar bekerja sambil menunggu waktu pulang dan akhir pekan?
Dikutip dari laman Psychology Today, beberapa langkah yang bisa membantu memastikan bahwa orang membuat pilihan yang konsisten dan tepat, di antaranya mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, mempertimbangkan semua alternatif yang mungkin, hingga meluangkan waktu untuk mempertimbangkan keputusan-keputusan penting dengan matang.
2. Mempertimbangkan Konsekuensinya
Sebelum mengambil keputusan, pikirkan terlebih dahulu apa saja dampak yang mungkin muncul.
Misalnya, jika secangkir kopi seharga Rp 25 ribu dibeli setiap hari, pengeluarannya bisa mencapai sekitar Rp 750 ribu dalam sebulan atau Rp 9,1 juta dalam setahun. Apakah jumlah tersebut masih sesuai dengan kondisi keuangan dan anggaran yang dimiliki?
Pertimbangkan juga dampaknya terhadap kesehatan. Bagaimana tubuh merespons kopi tersebut? Apakah setelah meminumnya tubuh terasa lebih berenergi atau justru tidak nyaman? Apakah konsumsi kopi juga membuat asupan kalori harian bertambah? Hal-hal tersebut merupakan konsekuensi yang perlu dipikirkan sebelum mengambil keputusan.
Meski emosi dapat berperan dalam proses pengambilan keputusan, pertimbangan tersebut sebaiknya tetap diimbangi dengan informasi yang faktual. Memahami adanya bias kognitif juga dapat membantu seseorang menghindari pilihan yang kurang tepat, terutama ketika menghadapi situasi yang kompleks dan memiliki dampak jangka panjang.
Dikutip dari laman Spike Story, psikolog Gary Klein menemukan bahwa analisis pre-mortem, atau membayangkan sebelum keputusan dibuat kemungkinan kegagalannya, akan meningkatkan kemampuan untuk mengidentifikasi potensi risiko sekitar 30 persen. Membayangkan kegagalan sebelumnya bukanlah pesimisme, tetapi persiapan.
3. Tidak Mengabaikan Perasaan
Sebagian besar pilihan yang diambil seseorang dipengaruhi oleh perasaannya. Studi telah menemukan bahwa orang yang kurang memiliki reaksi emosional terhadap suatu situasi dapat mengalami kesulitan dalam membuat keputusan.
Coba perhatikan bagaimana perasaan yang muncul saat mempertimbangkan pilihan yang akan diambil. Untuk melakukannya, luangkan waktu sejenak dan tenangkan pikiran agar dapat memahami perasaan dengan lebih baik.
Jika sulit mengenali emosi yang muncul, perhatikan reaksi tubuh. Apakah jantung berdetak lebih cepat atau justru tubuh terasa lebih tenang? Respons tersebut bisa membantu memahami perasaan terhadap keputusan yang sedang dipertimbangkan.
4. Menggunakan Imajinasi
Orang cerdas menggunakan imajinasi untuk melihat apa yang dapat terjadi dari berbagai kemungkinan. Apa hasil terbaik yang diharapkan? Apa pula hasil terburuk yang mungkin terjadi?
Imajinasi merupakan alat kognitif yang memungkinkan seseorang mengeksplorasi berbagai kemungkinan, mengantisipasi konsekuensi, serta menyesuaikan keputusan dengan nilai dan tujuan jangka panjang.
Terkait dengan imajinasi, penelitian pada tahun 2015 menunjukkan bahwa anak usia 4-6 tahun (rata-rata 63 bulan) secara konsisten menemukan solusi terhadap berbagai masalah. Temuan ini sejalan dengan kemampuan mereka untuk membayangkan karakteristik abstrak dari suatu masalah kausal beserta solusinya.
5. Membuat Daftar Kelebihan dan Kekurangan
Saat membuat keputusan, buat daftar kelebihan dan kekurangan dari setiap pilihan. Cobalah berpikir secara logis dan melihat keputusan tersebut dari berbagai sudut pandang.
Tuliskan secara langsung agar setiap pilihan dapat dibandingkan dengan lebih jelas. Lakukan hal yang sama untuk sisi positif dan negatif dari setiap pilihan agar keputusan dapat dipertimbangkan dengan lebih menyeluruh.
Dikutip dari laman Better Up, dalam situasi yang penuh risiko, daftar kelebihan dan kekurangan bisa digunakan sebagai langkah awal untuk berpikir kritis dan membantu memahami konsekuensi dari pilihan yang akan diambil. Namun, untuk keputusan penting, pertimbangkan juga emosi dan bias yang dapat memengaruhi penilaian.
6. Jujur pada Diri Sendiri
Kejujuran penting dalam mengambil keputusan besar. Hal tersebut dapat membantu seseorang membuat pilihan yang lebih informatif, etis, dan efektif, sekaligus mendukung kesejahteraan.
Salah satu cara jujur pada diri sendiri adalah mengajukan pertanyaan pada diri sendiri, misalnya, "Apa yang benar-benar ingin dilakukan di akhir pekan?"
Memulai dari langkah kecil dan kemudian meningkatkannya secara bertahap merupakan variasi dari teknik foot-in-the-door dalam persuasi, yaitu ketika langkah-langkah kecil dapat mendorong perubahan yang lebih besar. Secara perlahan, seseorang belajar untuk menghadapi kenyataan yang semakin besar.
Dengan cara ini, seseorang bisa mulai belajar menerima diri sendiri secara jujur. Setiap kali mengakui satu kebenaran tentang diri sendiri, kepercayaan diri untuk mengakui kebenaran berikutnya akan tumbuh.
(elk/dpy)