250 Ribu Siswa-Guru Demo di Prancis, Polisi Tembakan Gas Air Mata
Jakarta, CNN Indonesia --
Lebih dari 250.000 siswa mayoritas dari sekolah menengah atas (SMA), guru, dan orang tua turun ke jalan di berbagai wilayah Prancis untuk menuntut perbaikan kondisi sekolah, Selasa (6/10).
Polisi anti huru hara sampai menembakkan gas air mata dan menggunakan pentungan untuk membubarkan sejumlah demonstran yang terlibat bentrokan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aksi pada Selasa (6/10) menjadi demonstrasi terbesar sejak gelombang protes dimulai sejak lebih dari dua pekan lalu. Aksi berlangsung di sejumlah kota, termasuk Paris, Marseille, Nantes, Lyon, dan Bordeaux.
Kementerian Dalam Negeri Prancis memperkirakan sekitar 200.000 orang mengikuti demonstrasi di berbagai kota. Sementara itu, sekitar 56.000 orang ikut dalam aksi terbesar di Paris.
Jumlah tersebut berbeda dengan perkiraan penyelenggara yang menyebut total peserta mencapai 450.000 orang.
Sebagian besar aksi berlangsung damai. Namun, sejumlah demonstrasi berakhir dengan aksi vandalisme sporadis dan bentrokan dengan polisi antihuru-hara. Pihak berwenang meyakini demo ricuh di sejumlah daerah terjadi karena sudah ditunggangi kelompok-kelompok tertentu.
Polisi sampai menembakkan gas air mata dan menggunakan pentungan untuk membubarkan massa.
Menurut data Kementerian Dalam Negeri Prancis yang dikutip Liberation, hampir 500 orang ditangkap pada Selasa (6/10). Sebanyak 43 polisi juga dilaporkan terluka.
Perdana Menteri Prancis, Sebastien Lecornu, mengatakan sebanyak 215 remaja dan 85 staf sekolah terluka sejak protes dimulai. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai korban terberat yang dialami sistem pendidikan Prancis dalam beberapa dekade.
Selain itu, kantor Lecornu menyebut 715 polisi telah terluka dalam berbagai bentrokan selama gelombang demonstrasi berlangsung.
Protes dipicu tuntutan siswa dan guru terkait kondisi pendidikan. Mereka meminta pemerintah memastikan guru yang absen segera digantikan, memperbaiki bangunan sekolah yang sudah tua, serta meninjau kembali jam belajar yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 18.00.
"Kami hanya ingin menyelamatkan pendidikan kami dan mendapatkan pendidikan," kata Océanne, 18 tahun, saat mengikuti demonstrasi di Marseille, seperti dilaporkan The Guardian.
Ia mengeluhkan banyaknya guru yang absen dan tidak mendapatkan pengganti yang memadai.
Di Paris, seorang siswi bernama Anna mengatakan tuntutan para demonstran sebenarnya sederhana.
"Tuntutan kami sederhana: kondisi belajar yang lebih baik, guru yang cukup, gedung sekolah yang layak. Tanggapan pihak berwenang sangat buruk. Sudah cukup banyak kekerasan," ujarnya.
Namun, aksi tersebut juga diwarnai kekerasan. Para demonstran membakar tempat sampah, merusak halte bus, dan melempar benda ke arah polisi.
Sejak pertengahan September, sebanyak 24 sekolah dilaporkan dibakar atau dijarah. Lebih dari 6.100 orang telah ditangkap dan sebagian besar merupakan anak di bawah umur.
Kementerian Kehakiman Prancis menyebut lebih dari 1.800 orang sedang diadili, 1.500 di antaranya berusia di bawah 18 tahun.
Kementerian Pendidikan Prancis mengatakan lebih dari 900 dari sekitar 3.700 sekolah menengah atas ditutup atau diblokir pada Selasa (6/10). Kelompok siswa memperkirakan jumlah sekolah yang terdampak mencapai sekitar 1.800.
Sejumlah otoritas pendidikan juga memindahkan kegiatan belajar ke sistem daring akibat aksi tersebut.
Di tengah bentrokan, kelompok hak asasi manusia menuding polisi menggunakan kekerasan secara berlebihan terhadap demonstran muda.
Pilihan Redaksi
- Puluhan Ribu Pelajar Berencana Demo di Paris Tuntut Rombak Pendidikan
- Siapa Staf Laboratorium Wabah di Rusia yang Tewas Tertular Diduga Pes?
- Situasi Terkini Lab Rusia Lokasi Staf Peneliti Wabah yang Meninggal
Amnesty International mendesak pemerintah Prancis menghentikan penggunaan kekuatan yang dinilai tidak proporsional.
Presiden Amnesty Prancis, Anne Savinel-Barras, mengatakan penggunaan gas air mata, pentungan, dan sejumlah teknik kepolisian menimbulkan kekhawatiran.
Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nuñez, membantah tudingan tersebut. Ia mengatakan tindakan polisi sudah proporsional dalam "hampir seluruh kasus", terutama ketika demonstrasi berubah menjadi kerusuhan sehingga memerlukan intervensi polisi.
Nuñez mengatakan kepolisian juga telah membuka 10 penyelidikan internal terkait dugaan tindakan brutal selama aksi berlangsung.
Sejumlah insiden menyebabkan demonstran mengalami luka serius.
Pada Senin (5/10), seorang remaja 15 tahun dilaporkan kehilangan tangannya setelah ledakan saat bentrokan dengan polisi di Prancis utara.
Pada Rabu (7/10), remaja lain berusia 16 tahun kehilangan penglihatan pada mata kanannya setelah mengalami cedera kepala saat blokade sekolah di Tours.
(mge/rds)