gop-crypto.vip

1.000 Orang Ditangkap dalam Kerusuhan di Paris, Penjarahan Meluas

Liputan6.com, Paris - Lebih dari 1.000 orang ditangkap dalam rangkaian kerusuhan di Paris, Prancis, selama akhir pekan. Kejaksaan Paris menjadwalkan sidang cepat pertama terhadap para tersangka pada Senin.

Dikutip dari Anadolu, dalam laporan terbaru yang dirilis Senin pagi, Kejaksaan Paris mencatat 855 penangkapan terkait demonstrasi pada Sabtu. Dari jumlah tersebut, 557 orang ditempatkan dalam tahanan polisi, menurut laporan Le Parisien.

Kejaksaan menyebut sekitar 78 persen dari mereka yang ditahan merupakan orang dewasa. Sementara itu, dari 124 anak di bawah umur yang ditahan, hanya 20 orang yang berdomisili di Paris.

Berdasarkan catatan kejaksaan, terdapat 244 kasus penahanan terkait dugaan tindak pidana terhadap properti, 108 kasus terkait keterlibatan dalam kelompok, serta 45 kasus yang menyangkut kekerasan terhadap pejabat publik.

Kasus lainnya berkaitan dengan dugaan tindak pidana terhadap individu dan pelanggaran lainnya.

Kejaksaan juga memperpanjang masa penahanan terhadap 278 orang. Langkah ini terutama dilakukan dalam penyelidikan kasus pencurian dan penjarahan toko di sejumlah kawasan, termasuk Champs-Elysees, Chatelet, Saint-Lazare, dan Republique.

Kejaksaan Paris mengatakan para tersangka pertama mulai dibawa ke hadapan jaksa setelah menjalani penahanan.

Sidang cepat dijadwalkan berlangsung pada Senin. Proses persidangan melalui mekanisme pengakuan bersalah juga akan digelar bagi para tersangka yang mengakui dugaan tindak pidana mereka.

Penangkapan Berlanjut pada Minggu

Sementara itu, kerusuhan yang terjadi pada Minggu masih menambah jumlah penangkapan di Paris.

Berdasarkan penghitungan sementara hingga pukul 08.00 pada Senin, sebanyak 208 orang ditangkap, termasuk 49 anak di bawah umur. Dari jumlah tersebut, 145 orang ditempatkan dalam tahanan polisi.

Kerusuhan tersebut menyusul demonstrasi nasional pada Sabtu yang menentang tingginya biaya hidup. Bentrokan dan penjarahan kembali terjadi di Paris pada Minggu malam hingga dini hari.

Situasi tersebut mendorong sejumlah otoritas daerah memperketat pembatasan pada Senin.

Di Marseille, pemerintah setempat melarang pertemuan dan demonstrasi mulai pukul 12.00 hingga 20.00.

Sementara itu, kota Denain di wilayah utara Prancis memberlakukan jam malam pada malam hari yang berlaku hingga 25 Oktober.